Ramai-ramai perkuat ekosistem: pengalaman Oppo, Vivo dan Realme

Posted on

 

Telah lumayan lama beberapa orang tergantung pada piranti tehnologi seperti handphone. Piranti memiliki ukuran imut ini selalu ditingkatkan bermacam perusahaan, hingga makin hari makin pandai. Walau demikian, peranan piranti tehnologi yang lain, seperti netbook atau PC masih tidak terpindahkan, hingga melatih manusia untuk hidup berdampingan dengan multi-perangkat yang tersambung.

Cisco dalam laporannya mengatakan, nyaris dua pertiga komunitas global akan mempunyai koneksi ke internet pada 2023. Disebut juga, bakal ada 5,3 miliar keseluruhan pemakai internet atau seputar 66% dari komunitas global pada tahun yang serupa, bertambah 3,9 miliar (51% komunitas global) dibandingkan pada 2018.

Jumlah piranti yang akan tersambung ke internet diprediksi akan lebih dari 3x komunitas global pada 2023

Lebih detil, bakal ada 3,6 piranti tersambung per kapita pada 2023, naik dari 2,4 piranti per kapita pada 2018. Akhirnya secara keseluruhan, bakal ada 29,3 miliar piranti yang tersambung pada 2023, bertambah dari jumlah piranti tersambung pada 2018 yang capai 18,4 miliar.

Ternyata, zaman piranti yang tersambung oleh internet atau disebutkan Internet of Things (IoT) jadi udara segar untuk supplier handphone. Anda kemungkinan telah tidak asing kembali dengan handphone bermerek Samsung, LG atau Sony. Ke-3 nya menghasilkan bermacam piranti elektronik, dari home appliances sampai perintilan yang lain.

Hp pertama yang dibuat Samsung ialah Samsung SC-1000 di tahun 1985. Tetapi, ini bukanlah piranti pertama yang dibuat perusahaan asal Korea Selatan itu sebab Samsung Grup bahkan juga sudah dibangun semenjak 1938. Dalam kata lain, Samsung membuat produk lain sebelumnya terakhir memperlebar baris produknya ke hp yang tetap ditingkatkan sampai jadi handphone.

Cara sama dikerjakan LG, Sharp, dan Sony yang memperlebar baris produknya ke handphone, seperti LG G atau K series, Sony Xperia series dan Sharp Aquos series.

Sampai sekarang ini, ke-4 perusahaan itu masih menghasilkan handphone, walau handphone LG dan Sony telah mangkir di Indonesia. Sharp sendiri sempat lenyap dari pasar, wlau sekarang kembali lagi optimis mendatangkan handphone terbaru di Indonesia.

Taktik berlainan ala-ala supplier handphone Tiongkok

Empat perusahaan tehnologi asal Korea Selatan dan Jepang yang telah disebut awalnya mengawali kiprah selaku perusahaan tehnologi yang menghasilkan piranti elektronik. Beda hal dengan Oppo, Xiaomi dan Realme. Mereka mengawali kiprahnya di Indonesia selaku supplier handphone.

Tetapi, seiring berjalannya waktu, mereka mulai lakukan penganekaragaman produk. Artinya, perkuat ekosistem. Antara piranti yang sekarang ditingkatkan ke-3 supplier itu ialah smartwatch, headset True Wireless Stereo (TWS), sampai smart TV. Xiaomi bahkan juga sejak dari awalnya telah sediakan bermacam produk kecuali handphone, seperti air purifier, smart bulb, smart TV dan yang lain ke bermacam negara terhitung Indonesia sebab tugasnya supaya dikenali selaku perusahaan tehnologi, tidak cuma supplier handphone.

Pendiri Xiaomi, Lei Jun, menjelaskan “Kami lebih dari sebatas perusahaan hardware. Kami ialah perusahaan internet yang didorong oleh inovasiā€¦ Xiaomi ialah perusahaan internet dengan handphone dan hardware pandai yang tersambung oleh basis IoT selaku pokok.”

Pengakuan ini dikatakan Lei Jun di tahun 2018 yang memperlihatkan jika semenjak awalnya, Xiaomi sudah mempunyai visi ke arah zaman IoT. Sekarang, hal sama dikerjakan sebagian besar supplier handphone yang berada di Indonesia.

Sebutlah saja Vivo yang telah mencanangkan tugasnya untuk ikut mendatangkan produk AIoT ke Indonesia berbentuk headset TWS

Dalam satu acara Ngabuburit Online, Fachryansyah Farandy, Digital dan PR Director vivo Indonesia dan Tyas K. Rarasmurti, Senior PR Manajer vivo Indonesia menjelaskan, perusahaannya akan membawa handphone flagship dan piranti wearable ke Tanah Air pada tahun ini. Piranti wearable yang diartikan ialah headset TWS yang baru saja ini dikeluarkan di Tiongkok.

Saat itu, Oppo dan Realme telah mengambil start dengan mengeluarkan headset TWS semasing bertema Enco series dan Buds Air. Belakangan ini, Realme mengenalkan Buds Air seri baru bertema Buds Air Neo dan Buds Q. Untuk memperlihatkan kesungguhannya untuk mendatangkan produk AIoT, perusahaan yang keberadaannya belum genap 2 tahun ini mengeluarkan smartwatch bertema Realme Watch.

Di India, Realme mengeluarkan smart TV. Bukan mustahil, piranti yang serupa akan didatangkan ke Tanah Air buat lengkapi produk AIoT perusahaan di Indonesia. Dalam peluang terlibat perbincangan dengan Tek.id, Palson Yi – Pemasaran Director Realme Indonesia menjelaskan, akan bawa beberapa piranti AIoT ke Indonesia terhitung smart TV, CCTV pada paruh ke-2 tahun ini.

Berlainan dengan Oppo, Xiaomi, Realme dan Vivo, Huawei mengikut tapak jejak perusahaan asal Korsel dan Jepang yang ikut memperlebar usahanya ke piranti mobile. Perbedaannya, perusahaan ini mengawali kiprah selaku perusahaan perlengkapan telekomunikasi, hingga termasuk cukuplah mapan untuk memperlebar baris produknya ke handphone.

Huawei mendatangkan smartwatch sampai netbook yang dikeluarkan bertepatan dengan Mate 40 Pro

Perlahan-lahan tetapi tentu, keberadaan supplier handphone makin jelas di pasar smart TV dan smartwatch. Counterpoint dalam laporannya memperlihatkan, Xiaomi mempunyai market share 7% untuk pasar smart TV secara global. Saat itu, di India, market share Xiaomi di pasar smart TV capai 27%, hingga membuatnya supplier paling atas. Bukan mustahil, hal sama berlangsung ingat pasar Indonesia dengan India cukup serupa.

Penelitian IDC memperlihatkan, supplier handphone mengasai pasar smartwatch global pada Q1 2020. Urutan kesatu dicapai Apple dengan market share 26,8% dan pengangkutan 4,5 juta unit. Urutan ke-2 dihuni Huawei (15,2%) diikuti Samsung (10,8%) di urutan ke-3. Saat itu, status seterusnya dihuni Garmin (7,5%), Huami (5,8%) dan yang lain (33,9%).

Persaingan piranti AIoT di Indonesia

Peluasan baris produk yang dikerjakan beberapa supplier handphone itu seakan menegaskan jika tidak ada kembali supplier handphone yang pantas disebutkan supplier handphone semata-mata, terutamanya di Indonesia. Apa lagi, sebagian besar perusahaan makin optimis mendatangkan serangkaian produk tehnologi yang lain yang bisa tersambungsi dengan handphone dan memberikan dukungan ide IoT.

Realme, misalkan, mengatakan peristiwa AIoT akan berjalan bersama-sama dengan perubahan tehnologi handphone. Ini sebab Realme yakini piranti AIoT bila masuk di dalam satu ekosistem masih memerlukan kontrol secara mobile, dimanapun dan kapan pun lewat di handphone.

“Peranan handphone malah akan bertambah bersamaan dengan perubahan tehnologi dan ekosistem AIoT, hingga bisa memikat untuk team R&D untuk membuat piranti yang revolusioner dan menyesuaikan dengan trend,” kata Public Relation Manajer Realme Indonesia – Krisva Angnieszca

Begitupun dengan Oppo yang yang yakini customer di Indonesia memerlukan piranti lain kecuali handphone

yang selanjutnya membuat ekosistem baru.

“Memperlebar baris salah satunya langkah meningkatkan ekosistem yang telah ada. Tentu saja kecuali handphone customer memerlukan piranti yang lain memberikan dukungan performa handphone, yang biasa dikerjakan ialah powerbank dan bluetooth headset untuk awalnya, sekarang sejak ada tehnologi 5G, baris produk diperlebar untuk manfaatkan tehnologi ini, mulai ada TWS atau Modem 5G CPE sebagai napas untuk IoT OPPO. Baris kecuali handphone tentu saja akan membuat portofolio produk yang bagus, memberi opsi ke customer dan membuat suatu ekosistem baru,” kata Aryo Meidianto – PR Manajer Oppo Indonesia.

Di lain sisi, Sharp yakini jika handphone tetap jadi bintang pasar piranti tehnologi. Jadi, lumrah saja bila perusahaan asal Jepang ini kembali lagi mendatangkan seri terkini ke Indonesia sambil meneruskan peningkatan produk tehnologi yang lain. Sharp juga buka diri untuk selalu memperlebar baris produknya ke piranti wearable, seperti smartwatch di periode kedepan.

“Di saat ini Sharp masih konsentrasi di produk handphone lebih dulu. Masalahnya Sharp Indonesia baru mengawali lagi usaha handphone tahun ini, jadi kami akan menyaksikan tanggapan pasar lebih dulu. Walau begitu, kami tidak tutup untuk peluasan usaha ke produk lain seperti smartwatch, memungkinkan berlangsung nanti,” tutur Ardy – Product Strategy Assistant General Manajer Sharp Indonesia.

Samsung yang telah termasuk mapan, janjikan pengembangan yang lain yang akan memberikan dukungan keperluan customer kecuali dari barisan produk yang telah lengkapi ekosistemnya

“Konsentrasi Samsung ialah memberi yang terhebat yang diperlukan customer kami. Salah satunya yang Samsung datangkan lama dengan lengkapi ekosistem handphone kami. Dengan mendatangkan smartwatch, TWS, bahkan juga VR piranti. Dan kami terus akan mendatangkan pengembangan yang lain yang terus akan memberikan dukungan customer untuk memberi keringanan dan sanggup memberi suport untuk customer untuk lakukan segalanya lebih bagus kembali,” kata Denny Galant – Head of IT dan Mobile, Samsung Indonesia.

Masalah kompetisi di industri mana juga terhitung industri piranti tehnologi, pasti bukan jadi hal baru. Seluruh perusahaan yang berkaitan dengan artikel ini juga mengaminkan. Untuk hadapi kompetisi ini, Oppo Indonesia memprioritaskan factor diferensiasi yang bisa membuat produknya berlainan dengan supplier lain. Saat itu, Realme malah memandang kompetisi selaku penyemangat untuk perusahaan untuk berlomba-lomba mendatangkan produk dengan trendsetting technology dan trendsetting desain untuk customer.

Walau tidak seluruhnya perusahaan yang disebut sebelumnya telah membawa smartwatch ke Indonesia, piranti tehnologi ini mungkin jadi salah satunya produk wearable yang akan didatangkan di periode kedepan, seperti disebut Sharp Indonesia. Ini sudah pasti makin memperlebar persaingan antar perusahaan. Lalu, bagaimana produsen piranti wearable terutamanya smartwatch menyikapi ini?

Country Manajer Garmin Indonesia – Rian Krisna menjelaskan persaingan maupun kompetisi tidak lagi hal baru untuk Garmin yang telah exist sampai tiga dasawarsa

Supaya masih bisa menjaga keberadaannya, Garmin terus akan mendatangkan beberapa produk favorit.

“Berkenaan persaingan yang makin bertambah, Garmin sesuai pernyataan visi kami; Jadi perusahaan yang tahan lama dengan membuat

beberapa produk favorit untuk otomotif, penerbangan, kelautan, outdoor, dan olahraga yang disebut sisi penting dari kehidupan konsumen setia kami. Garmin telah berdiri sepanjang 30 tahun lebih di mana persaingan/substitusi di dunia tehnologi tidak bisa dijauhi,

Garmin terus usaha membuat produk produk inovatif untuk konsumen setia kami dan jadi sisi dari sehari-harinya mereka. Kita terus senang persaingan yang sehat, dan kami terus akan meningkatkan produk produk kami sama keperluan pasar,” kata Rian menerangkan.

Berkaitan serangan dari supplier handphone yang mendatangkan piranti seperti smartwatch, Garmin terus akan lakukan analisis customer dan keperluannya dengan pas. Disamping itu, Garmin mendekat dengan customer lewat beberapa aktivitas yang mendukung sehari-harinya mereka.

Yang tidak kalah penting, Rian menjelaskan, Garmin benar-benar konsentrasi

pada service purna-jual yang terus akan ditingkatkan sambil mendatangkan produk baru yang makin lengkapi ekosistem perusahaan.

Simpulan

Lepas dari Samsung dkk yang dapat disebutkan senior atau Oppo dkk,

seluruh perusahaan ini bisa menjaga keberadaannya dengan catatan terus memerhatikan keperluan dan kenyamanan pemakai.

Dengan taktik barisan produk yang makin diperkaya, nampaknya panggilan

supplier handphone telah tidak akan cukup buat memvisualisasikan Oppo, Vivo, Realme, Xiaomi sampai Huawei. Apa lagi, dengan keberadaan produk di luar handphone yang bisa dibuktikan disukai pemakai. Searah dengan tugasnya, beberapa perusahaan itu benar-benar mengharap dikatakan sebagai perusahaan tehnologi, tidak cuma supplier handphone di Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *